<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://gospeltranslation.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
		<id>http://gospeltranslation.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Nelcemanoppo&amp;title=Special%3AContributions%2FNelcemanoppo</id>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://gospeltranslation.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Nelcemanoppo&amp;title=Special%3AContributions%2FNelcemanoppo"/>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/Special:Contributions/Nelcemanoppo"/>
		<updated>2026-04-17T21:38:01Z</updated>
		<subtitle>From Gospel Translations</subtitle>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/Cosmic_Treason_(January_2007)</id>
		<title>Cosmic Treason (January 2007)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/Cosmic_Treason_(January_2007)"/>
				<updated>2009-06-17T03:33:44Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Penghianatan Kosmik (Januari 2007)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan tentang “Apakah dosa itu?” dikemukakan dalam Westminster Shorter Catechism. Jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan katekismus ini secara sederhana adalah: “Dosa adalah keinginan untuk menyesuaikan dengan atau pelanggaran terhadap hukum Allah.” &amp;lt;br&amp;gt;Mari kita melihat sebagian dari unsur tanggapan katekisme. Pertama-tama, dosa adalah suatu keinginan atau kekurangan. Dalam abad pertengahan, para ahli teologi Kristen mencoba melukiskan iblis atau dosa dengan istilah kekurangan (privatio) atau ketiadaan (negatio). Dalam istilah-istilah ini, iblis atau dosa dikenal dari ketidak-sesuaiannya dengan kebaikan. Istilah negatif yang dihubungkan dengan dosa dapat dilihat dalam ayat-ayat alkitab seperti ketidak-patuhan, ketidak-bertuhanan, atau ketidak-bermoralan. Di dalam seluruh istilah tersebut, kita melihat ada penekanan terhadap sifat negatifnya. Ilustrasi selanjutnya mencakup kata-kata seperti aib, antikris, dan sebagainya.&amp;lt;br&amp;gt;Namun demikian, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai dosa, kita harus melihat bahwa dosa mencakup lebih daripada penegatifan dari kebaikan, atau lebih daripada sekedar kurangnya kebajikan. Kita mungkin cenderung menganggap bahwa dosa, bila dijabarkan secara ekskusif dalam istilah negatif, hanyalah sekedar ilusi. Tetapi kebinasaan dari dosa menunjuk secara dramatis kepada realitas dari kekuatannya, yang tidak pernah dapat dijelaskan dengan ilusi. Para penganut pembaharuan menambahkan pada makna dari privatio tersebut suatu pendapat tentang aktualitas atau aktivitas, sehingga iblis dilihat dalam frasa, ”privatio actuosa.” Hal ini menekankan pada sifat aktif dari dosa. Dalam katekismus, dosa dijabarkan bukan hanya sebagai keinginan untuk menyesuaikan namun suatu tindakan pelanggaran, suatu tindakan yang mencakup melangkahi atau menyalahi standar.&amp;lt;br&amp;gt;Untuk memahami arti dari dosa, kita tidak dapat menjabarkannya secara terpisah dari hubungannya dengan hukum Taurat. Hukum Tauratlah yang menentukan apa yang dimaksud dengan dosa. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus, terutama dalam kitab Roma, dengan tegas menekankan bahwa ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara dosa dan maut dan antara dosa dan hukum Taurat. Rumus sederhanyanya adalah sebagai berikut: Tidak ada dosa sama dengan tidak ada maut. Tidak ada hukum Taurat sama dengan tidak ada dosa. Rasul membantah bahwa dimana tidak ada hukum Taurat, tidak ada dosa, dan dimana tidak ada dosa, tidak ada maut. Hal ini berdasarkan pada alasan bahwa maut menyerbu kehidupan manusia sebagai tindakan penghukuman ilahi atas dosa. Maut tidak dapat memasuki kehidupan manusia sampai Taurat Allah dinyatakan pertama kali. Untuk alasan inilah maka rasul menentang bahwa hukum moral sudah berlaku sebelum Allah memberikan kode Mosaik kepada Israel. Argumentasinya adalah bahwa maut sudah ada di muka bumi sebelum Sinai, bahwa maut berkuasa sejak Adam sampai Musa. Ini hanya berarti bahwa hukum moral Allah diberikan kepada ciptaan-Nya jauh sebelum loh batu dikirim kepada bangsa Israel.&amp;lt;br&amp;gt;Hal ini memberikan kepercayaan pada pernyataan tegas Immanuel Kant tentang perintah moral universal yang ia sebut categorical imperative (perintah pasti), yang terdapat dalam hati nurani setiap orang yang dapat merasakan. Oleh karena hukum Tauratlah yang menjelaskan sifat dari dosa, maka kita dibiarkan menghadapi akibat yang mengerikan dari ketidak-patuhan kita terhadap hukum Taurat. Apa yang diperlukan oleh orang berdosa untuk diselamatkan dari aspek penghukuman ini adalah apa yang disebut Solomon Stoddard sebagai kebenaran dari Hukum Taurat. Sama seperti dosa digambarkan sebagai ketidak-sesuaian dengan Hukum Taurat, atau pelanggaran terhadap Hukum Taurat, maka penangkal satu-satunya terhadap pelanggaran itu ialah ketaatan terhadap Hukum Taurat. Jika kita memiliki ketaatan terhadap Hukum Allah, maka kita akan luput dari bahaya penghakiman Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Solomon Stoddard, kakek dari Jonathan Edwards, menulis dalam bukunya, The Righteousness of Christ, kesimpulan berikut mengenai nilai dari kebenaran Hukum Taurat: “Cukuplah bagi kita bila kita memiliki kebenaran Hukum Taurat. Tidak ada lagi bahaya dari kegagalan kita apabila kita memiliki kebenaran itu. Jaminan dari para malaikat di surga adalah karena mereka memiliki kebenaran hukum Taurat, dan itu adalah jaminan yang cukup bagi kita bila kita memiliki kebenaran hukum Taurat. Apabila kita memiliki kebenaran hukum Taurat, maka kita tidak akan terkena kutukan hukum Taurat. Kita tidak lagi ditakuti oleh hukum taurat; pengadilan tidak dibangkitkan atas kita; penghukuman dari hukum Taurat tidak dapat mencekeram kita; hukum tidak lagi mempunyai keberatan melawan keselamatan kita. Jiwa yang memiliki kebenaran hukum Taurat berada di luar jangkauan ancaman-ancaman dari hukum Taurat. Manakala tuntutan dari hukum Taurat dijawab, maka hukum Taurat tidak mendapati adanya kesalahan. Hukum Taurat hanya mengutuk ketidak-taatan yang sempurna. Ya, lebih dari itu, manakala terdapat kebenaran hukum Taurat, Allah telah mengikatkan diri-Nya untuk memberikan hidup yang kekal. Manusia yang demikian adalah ahli waris kehidupan, menurut janji hukum Taurat. Hukum Taurat menyebut mereka sebagai ahli waris kehidupan, Galatia 3:12, ’siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya’ (Kebenaran Kristus, ayat 25). &amp;lt;br&amp;gt;Satu-satunya kebenaran yang memenuhi persyaratan hukum Taurat adalah kebenaran Kristus. Hanya karena tuduhan terhadap kebenaran itulah maka orang berdosa bisa memiliki kebenaran hukum Taurat. Hal ini sangat penting dalam pemahaman kita pada saat ini dimana tuduhan terhadap kebenaran Kristus itu mendapat banyak tantangan. Jika kita mengabaikan pikiran tentang kebenaran Kristus, kita tidak mempunyai pengharapan, karena hukum Taurat tidak pernah dinegosiasikan oleh Allah. Selama hukum Taurat ada, kita terbuka terhadap penghakimannya kecuali dosa kita ditutupi oleh kebenaran hukum Taurat. Penutup satu-satunya yang dapat kita miliki dari kebenaran itu adalah yang kita dapati melalui ketaatan Kristus yang aktif, dimana Ia sendiri telah memenuhi setiap catatan dan judul dari hukum Taurat. Pemenuhan terhadap hukum Taurat dalam diri-Nya sendiri adalah merupakan aktivitas yang dilakukan untuk orang lain dan melaluinya Ia mencapai penghargaan sebagai hasil dari ketaatan tersebut. Ia melakukan ini bukan untuk diri-Nya sendiri namun untuk umat-Nya. Adalah kebenaran yang dituduhkan ini, penyelamatan dari penghukuman hukum Taurat, dan keselamatan dari kebinasaan dari dosa inilah yang menjadi latar belakang dari penyucian orang Kristen, dimana kita harus menahan nafsu dosa yang masih ada dalam kita, karena Kristus telah mati untuk dosa kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo. Jakarta, 16 Juni 2008.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/Christ_and_Him_Crucified/id</id>
		<title>Christ and Him Crucified/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/Christ_and_Him_Crucified/id"/>
				<updated>2009-06-17T03:27:46Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;amp;nbsp;{{info|Kristus dan Dia Disalibkan}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba untuk meringkas doktrin Rasul Paulus tentang keselamatan dalam satu tulisan pendek mungkin kelihatan sebagai suatu perbuatan bodoh, namun kita harus mencoba. Khotbah Paulus tentang Injil dimulai dari keyakinannya bahwa Yesus orang Nasaret adalah “Mesias” anak Allah yang dijanjikan itu, yang diutus oleh Allah ke dunia dalam “kegenapan waktu” untuk memenuhi janji-Nya kepada umat-Nya, Israel (2 Kor. 1:18–22; 6:2; Gal. 4:4). Berita agung dari pengajaran Paulus adalah “rahasia” dari Injil tentang Yesus Kristus (Kol. 1:26; Rom. 16:26; 2 Tim. 1:10). Walaupun sebelumnya tersembunyi, rahasia ini kini diungkapkan kepadanya dan rasul-rasul yang lain yang kepada mereka ”dipercayakan rahasia Allah” (1 Kor. 4:1; Ef. 3:2ff.). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan Paulus ini membantu menjelaskan hubungan antara ajarannya tentang keselamatan dan ajaran Yesus Kristus di dalam Injil. Sama seperti Kristus menekankan kedatangan kerajaan Allah, yang memperkenalkan berkat dari “masa yang akan datang” ke “masa kini”, demikian pula Paulus menekankan kedatangan Yesus Kristus sebagai Seseorang yang melalui Dia karunia penyelamatan Allah sekarang diberikan kepada umat-Nya. Ajaran dari Yesus di dalam Injil sama dengan musik pembukaan yang mengumumkan tema dari keseluruhan Perjanjian Baru: kerajaan Allah sudah ”dekat.” Ajaran Paulus mengembangkan tema ini dengan menyajikan uraian yang menyeluruh tentang berkat keselamatan dari kerajaan Allah. Namun bagaimanakah rasul menjelaskan keselamatan yang dibawa oleh Kristus? Apa yang telah dicapai oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang menyediakan penebusan bagi mereka yang percaya kepada-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus meringkas jawabannya atas pertanyaan ini dalam 1 Korintus 15:3–4: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Ringkasan ini sama dengan ringkasan yang lain dalam surat-surat Paulus (Lihat 1 Kor. 2:2; Gal. 6:14). Dalam bagian-bagian ini, Paulus menyatakan bahwa Injil yang ia beritakan berpusat pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus untuk penebusan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat-surat Paulus, digunakan beberapa tema alkitab untuk menunjuk aspek yang berbeda dari keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Kristus bagi orang yang percaya. Tema pokok yang dipakai Paulus untuk menggambarkan karya Kristus tentang penebusan mencakup: Pertama, “pengorbanan” untuk atau “penebusan” dari kesalahan atas dosa manusia; Kedua, “pendamaian” dari murka Allah yang suci terhadap ciptaan-Nya yang berdosa; Ketiga, “rekonsiliasi” atau perdamaian dengan Tuhan; Keempat, “penebusan” dari kutukan dan penghukuman hukum Taurat; dan Kelima, “kemenangan” atas dosa, kematian, dan semua kekuatan yang menentang kerajaan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa Paulus memahami kematian Kristus sebagai pengorbanan bagi dosa tidak dapat disangkal lagi. Dalam 1 Korintus 15:3, Paulus menyatakan bahwa Kristus mati “untuk dosa-dosa kita.” Dalam bagian lain, ia mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri ”yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa” (Rom. 8:3). Paulus juga mengajarkan bahwa kematian Kristus adalah pendamaian terhadap murka Allah. Dalam kesucian-Nya, Allah membenci dosa. Akan tetapi, ajaibnya Injil adalah bahwa Allah dengan penuh kasih telah mendamaikan murka-Nya melalui kematian Anak-Nya sendiri (Rom. 3:25; 5:9−10; 2 Kor. 5:21). Karya penebusan Kristus juga merupakan karya rekonsiliasi. Melalui kematian-Nya, Kristus telah melepaskan semua rintangan terhadap pendamaian orang berdosa dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya rekonsiliasi ini termasuk aspek terhadap Allah dan terhadap manusia. Rekonsiliasi ini bukan saja melepaskan rintangan dari murka Allah (Rom. 5:9–10), namun juga memanggil orang-orang berdosa untuk “diperdamaikan” dengan Allah (2 Kor. 5:20). Tema tentang penebusan juga tergambar secara menyolok dalam pemahaman Paulus tentang karya penebusan Kristus. Pendapat alkitab tentang penebusan menekankan pembayaran harga yang menjamin pembebasan orang berdosa dari ikatan (1 Tim. 2:5–6). Dalam salah satu pernyataan paling jelas tentang penebusan Kristus sebagai karya penebusan, rasul Paulus menyatakan bahwa “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Gal. 3:13). Akhirnya, ciri yang terlupakan dari karya penebusan Kristus adalah kemenangan yang dicapainya atas kuasa dosa, maut, dan setiap bentuk perlawanan terhadap pemerintahan kerajaan Allah (1 Kor. 15:54–57). Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus melucuti kekuatan yang melawan kerajaan Allah (Kol. 2:13–15). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak dapat disangkali lagi bahwa pusat dari pengajaran Paulus adalah bahwa Allah telah memasuki sejarah dalam wujud Anak-Nya, Yesus Kristus, yang kematian dan kebangkitan-Nya untuk menebus dosa telah membawa keselamatan. Namun demikian, Injil menurut Santo Paulus juga termasuk penerapan dari keselamatan dalam Kristus bagi orang percaya yang dipersatukan dengan Kristus dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Kendati Paulus tidak secara eksplisit menyebutkan ”langkah keselamatan” (ordo salutis), dasar dari langkah tersebut dibuktikan dalam surat-suratnya (Lihat Rom. 8:30; 1 Kor. 1:30; 6:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang paling inklusif yang digambarkan Paulus tentang penerapan keselamatan adalah dalam hal persekutuan orang percaya dengan Kristus. Ketika orang percaya dipersatukan dengan Kristus melalui persekutuan dengan Roh Kudus, mereka turut serta secara penuh dalam semua manfaat dari karya penebusan-Nya bagi mereka (Rom. 8:2,11; 1 Kor. 6:11; Ef. 4:30). Untuk tujuan ringkasan pendek kita, tiga manfaat dari persekutuan dengan Kristus menjadi sesuatu yang penting dalam pemahaman Paulus tentang penerapan dari keselamatan: anugerah pembenaran, penyucian yang dikerjakan Roh Kudus, dan pemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anugerah Pembenaran. Kita mencatat dalam bagian pendahuluan bahwa sudah menjadi hal biasa dalam sekelompok orang untuk menentang penekanan Paulus terhadap persekutuan dengan Kristus dalam ajarannya tentang pembenaran yang bersifat forensik (hukum). Akan tetapi ini adalah suatu kesalahan yang amat besar. Reformasi tentunya benar dalam menegaskan bahwa ciri mendasar dari ajaran Paulus adalah doktrin tentang pembenaran karena anugerah semata-mata yang hanya melalui iman. Selain itu, bertentangan dengan pernyataan terakhir dari para pengarang “new perspective” (perspektif baru) tentang Paulus, Paulus secara jelas melihat pembenaran sebagai tema tentang keselamatan (soteriological theme). Pembenaran tidak sekedar menjawab pertanyaan apakah Bangsa-bangsa non Yahudi maupun orang Yahudi merupakan umat perjanjian Allah sebagaimana yang dipertahankan oleh pengarang perspektif baru. Ia terutama menjawab pertanyaan berapa banyak orang berdosa, orang Yahudi atau Bangsa-bangsa bukan Yahudi yang dapat diterima oleh Allah kendati mereka telah bersalah dan berdosa. Menurut Paulus, pembenaran adalah suatu anugerah Allah dimana Ia mengampuni dosa orang-orang percaya dan menyatakan mereka sebagai orang benar berdasarkan kebenaran Kristus (Rom. 4:1–5; 5:15–17; 10:3; 2 Kor. 5:21; Fil. 3:9). Kendati semua manusia telah berdosa, Kristus telah mati karena dosa umat-Nya dan bangkit untuk membenarkan mereka (Rom. 4:25). Di samping ”karya” apa saja yang dikerjakan untuk menaati hukum Taurat, Allah membenarkan mereka yang menerima Kristus karena iman (Rom. 3:28; Gal. 2:16). Kebaikan dari pembenaran ini merupakan berkat keselamatan eskatologis yang menyeluruh, yang menyatakan bahwa ”sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rom. 8:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyucian yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Semua manusia yang dipersatukan dengan Kristus hidup dalam Roh Kristus yang memberi hidup (Rom. 8:4–11). Orang percaya bukan hanya disebut orang benar dalam pembenaran secara cuma-cuma, namun mereka juga diperbarui seperti gambaran Kristus (2 Kor. 3:17–18). Kekuatan dan kekuasaan dosa telah dihancurkan. Melalui persekutuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, orang percaya sekarang harus menganggap diri mereka mati terhadap dosa dan hidup untuk kebenaran (Rom. 6:12–14). Status baru yang dinikmati oleh orang percaya (pembenaran) selalu disertai dengan ketaatan yang diperbarui, yang bekerja dalam hidup orang percaya oleh Roh Kristus (penyucian). Pemuliaan. Walaupun adalah hal biasa untuk menganggap bahwa pemuliaan adalah perwujudan dari keselamatan orang percaya di masa yang akan datang, Paulus berbicara tentang pemuliaan sebagai kenyataan sekarang dan yang akan datang (Rom. 8:18ff., 30). Karena persekutuan yang intim antara orang percaya dengan Kristus, pemuliaan Kristus dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya juga merupakan pemuliaan bagi orang percaya. Sekarang orang percaya sudah duduk bersama Kristus di tempat yang telah disediakan bagi mereka (Ef. 2:6). Namun demikian, masih ada pengharapan akan pemuliaan bagi orang percaya yang masih akan datang (2 Tes. 1:10). Selama mereka masih hidup di dunia ini, orang percaya terus menantikan datangnya hari ketika “tubuh hina” mereka akan diubah menjadi seperti tubuh Kristus yang mulia (Fil. 3:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injil, menurut Santo Paulus, dapat diringkas sebagai berita mulia dari pemenuhan Allah akan janji-Nya atas keselamatan bagi umat-Nya di dalam Kristus. Pesan pokok dari ajaran Paulus adalah keselamatan melalui Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Kristus telah menyediakan penebusan atas dosa-dosa umat-Nya yang memberi jawaban atas setiap aspek dari keadaan berdosa mereka. Melalui persekutuan iman dengan Kristus, orang percaya menikmati kebaikan dari karya penebusan ini. Dalam ayat yang sangat indah yang terdapat dalam 2 Korintus 5:17: “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Mereka yang ada di dalam Kristus menikmati status baru yaitu diterima secara cuma-cuma oleh Allah, walaupun mereka tidak layak sebagai orang-orang berdosa. Mereka juga memperoleh anugerah hidup yang taat kepada “hukum Kristus” melalui pekerjaan Roh Kudus. Dan mereka mengetahui anugerah yang ada sekarang serta kemuliaan yang akan datang, ketika “buah pertama” dari keselamatan di dalam Kristus akan dikeluarkan dalam tuaian eskatoligis dari keikutsertaan secara penuh dalam kemenangan kebangkitan Kristus.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/A_Light_in_Dark_Places/id</id>
		<title>A Light in Dark Places/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/A_Light_in_Dark_Places/id"/>
				<updated>2008-11-14T01:45:30Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Nelcemanoppo|date=14 August 2008}}&amp;amp;nbsp;Suatu Sinar di Tempat-tempat Gelap &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh Kudus telah mendorong orang-orang taat untuk terus bertepuk tangan karena sukacita sampai kedatangan Juruselamat yang dijanjikan,” sebagaimana ditulis oleh John Calvin dalam komentarnya tentang Mazmur 47:1-2. Paulus pasti akan sangat setuju! Menulis dari penjara di mana ia tidak tahu untuk melepaskan diri selain eksekusi atas dirinya, maka apa yang muncul dalam benaknya adalah sukacita. Sukacita adalah apa yang menjadi surat untuk Orang-orang Filipi. Begitu bersukacitanya Orang-orang Filipi sehingga George B. Duncan pernah menyebutnya sebagai “hidup dengan sukacita yang tak putus-putusnya.” Kebalikan dari sukacita adalah dukacita, dan kita tidak ditakdirkan untuk berdukacita. Para Pembaharu mendapati sentralitas dari sukacita dalam kasih orang-orang Kristen ketika mereka berteguh hati bahwa tujuan utama kita dalam kehidupan adalah “memuliakan Allah dan menikmati kasihNya selamanya” (WSC, Q. 1). &amp;lt;br&amp;gt;Orang-orang Kristen sudah tentu tergoda untuk merasa putus-asa dan tertekan oleh tekanan keadaan yang amat hebat. Namun dalam situasi seperti itu, kita harus berkata kepada diri kita sendiri bahwa kita tidak patut merasakan apa yang kita rasakan! Paulus, yang tahu bahwa berada di dalam penjara, didera dan diludahi, tidak diacuhkan dan diabaikan, mengajak kita untuk bersukacita, tanpa menghiraukan apa yang kita rasakan: “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan; sekali lagi kukatakan, bersukacitalah” (Filipi 4:4). &amp;lt;br&amp;gt;Sukacita Digambarkan &amp;lt;br&amp;gt;Paulus bukanlah seorang yang meminta orang lain melakukan apa yang ia sendiri tidak lakukan. Itulah sebabnya, kita bisa melihat dari catatan selama hidupnya bahwa ia bersukacita bahkan dalam situasi yang sangat sulit dan penuh ujian. &amp;lt;br&amp;gt;Dipenjarakan karena ketaatan pada Injil, rasul ini kehilangan kebebasan dan martabatnya. Ia mungkin mempunyai dendam pribadi tentang keadaannya. Pastilah, orang-orang Filipi sangat sulit untuk memahami hikmah di balik semua ini: bahwa hamba Allah yang sangat berharga dikurung di dalam penjara. Sebagian orang mempertanyakan kebijaksanaan atau kedaulatan Allah. Bahkan sebagian mungkin telah mempertanyakan kedua-duanya! &amp;lt;br&amp;gt;Perasaan Paulus mungkin telah memperlihatkan bahwa depresi, dendam, atau amarah adalah respons yang tepat. Namun sebaliknya, rasul tersebut mencari hal-hal baik dari keadaannya seperti itu. Akibat dari pemenjaraannya, sebagian anggota pengamanan istana Kaisar telah diperkenalkan kepada Injil. Paulus boleh saja dipenjara namun “firman Allah tidak terbelenggu” (2 Tim. 2:9). Bagi sang rasul, penginjilan bagi pengawal penguasa Romawi ini patut dibayar dengan penderitaannya. Kendati berada dalam bahaya, Paulus mampu bersukacita karena ia melihat rencana lain, yaitu sesuatu yang mempertimbangkan motif yang lebih besar daripada kesenangan dirinya saat ini.&amp;lt;br&amp;gt;Paulus mempunyai musuh yang ingin mencelakakannya. Yang mencengangkan adalah bahwa musuh tersebut adalah teman sesama pemberita Injil yang iri dengan keberhasilan dan popularitas Paulus. Mereka berkhotbah untuk memperburuk penderitaan Paulus, yang menyangka bahwa dengan bertindak demikian maka mereka akan “memperberat bebanku dalam penjara” (Fil. 1:17). Sebagian kelihatan cukup senang melihat sang rasul menerima apa yang mereka anggap patut diterimanya. &amp;lt;br&amp;gt;Paulus berada di bawah kekuasaan pengadilan Romawi. Pada pasal pertama ia telah mengatakan tentang kemungkinan akan kematiannya (Fil. 1:20). Kemudian, ia lebih memperluas hal ini dengan mengatakan, “Aku akan dicurahkan sebagai korban minuman” (2:17). Ini adalah pengakuan yang reaslistis dari sang rasul bahwa kerja keras dan penderitaannya akan mengantar ia ke kesyahidan. Apakah rasul putus asa? Apakah ia mendendam? Sama sekali tidak! “Aku bersukacita dan bersukacita dengan kamu sekalian,” tambahnya. &amp;lt;br&amp;gt;Sukacita Menjelma &amp;lt;br&amp;gt;Dapatkah kita menguraikan dengan lebih jelas apa yang dimaksud dengan sukacita dari apa yang ditulis Paulus di Filipi? Dua kebenaran teologis membawa sumber sukacita ke titik fokus. Pertama, Sukacita adalah hasil dari kebersamaan kita dengan Kristus. Allah menciptakan kita, dan kemudian menciptakan kita kembali dalam Kristus, untuk menjalin hubungan yang mendalam dan kekal; ini adalah sumber dari sukacita kita yang paling besar. Namun tidak ada suatu hubungan yang melebihi persahabatan kita dengan Yesus Kristus dalam Injil. Paulus memulai suratnya kepada orang-orang Filipi dengan mengingatkan para pembaca Kristen di sana tentang hubungan mereka dengan Yesus Kristus: mereka ada “di dalam Kristus” (1:1). Dengan melakukan hal itu, Paulus menekankan suatu kebenaran fundamental. Iman, sebagaimana Yesus peringatkan kepada murid-muridnya, adalah percaya “di dalam” Kristus (Joh 14:12). Iman mencakup suatu kesatuan dimana kita sepenuhnya bergantung pada sumber dari yang lain. Kebenaran ini dijelaskan dalam analogi hortikultural Yesus. Ia adalah pokok anggur, kita adalah carang-carangnya (Joh 15). Yesus meyakinkan para muridnya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (v. 11). Tidak jelas apakah Yesus ingin mengatakan bahwa orang percaya adalah penerima sukacita atau obyek sukacita. Mungkin kedua-duanya. Kristus mengembalikan kepada kita – yang telah kehilangan sukacita – sukacita yang Ia dapatkan pada kita! Dan ketika Ia melihat kita berbuah sebagaimana seharusnya, termasuk, sudah tentu, sukacita (Gal. 5:22), ini membuat Ia bersukacita juga! Mungkin sekarang kita bisa melihat pentingnya sukacita dalam hidup kita: karena hal itu menyenangkan hati Juruselamat kita! &amp;lt;br&amp;gt;Kedua, sukacita mengalir dari rasa manisnya kasih karunia. Jawaban atas dukacita adalah mengingatkan diri kita tentang bagaimana nasib kita apabila jauh dari kasih karunia Allah. “Kasih karunia, adalah suara yang sangat indah,” sebagaimana ditulis oleh Philip Doddridge, dengan demikian menggemakan apa yang selalu dirasakan oleh orang Kristen tentang perlakuan Allah terhadap kita. Kasih karunia adalah kata-kata pembuka dan penutup dari surat ini (Fil. 1:2; 4:23). Dan kalimat pembuka berikut ia beritahukan kepada orang-orang Filipi tentang betapa ia bersukacita setiap kali ia mengingat akan mereka, serta menambahkan bahwa sukacita itu adalah karena “kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia” (1:7). Orang Kristen mendapatkan sukacita mereka sebagaimana Allah telah memperlakukan mereka.&amp;lt;br&amp;gt;Sukacita berasal dari pengetahuan akan nilai dari apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ketika Paulus menjadi orang Kristen, sesuatu terjadi padanya: penilaian yang ia berikan terhadap sesuatu yang ada di dunia ini berubah. Kasih karusia Allah menjadi obyek dari kesenangan utamanya. Sebaliknya, baubles dunia ini yang ia perkirakan berasal dari kata Yunani skybala — sampah yang diserahkan secara sensitif dalam Versi Standar Inggris, tetapi lebih tepat adalah “kotoran hewan” (3:8). Sebagai perbandingan terhadap apa yang Allah telah anugerahkan kepadanya – kebenaran yang bukan miliknya — Paulus terdesak untuk ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang kasih karunia Allah yang luar biasa ini (3:7–10). &amp;lt;br&amp;gt;Sukacita Dikendalikan &amp;lt;br&amp;gt;Ada dua hal: Pertama, sepanjang yang kita bisa, kita harus belajar mengendalikan perasaan kita. Ada berbagai macam depresi, dan sebagian adalah akibat dari gangguan fisik dan psikologis yang kompleks. Akan tetapi ada saatnya dimana kita merasa depresi secara spiritual atau bahkan dengan alasan yang tidak jelas. Kadang-kadang hal terbaik yang harus kita lakukan dengan perasaan kita adalah menantangnya: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah; Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku “ (Mzm. 42:11). &amp;lt;br&amp;gt;Terlalu sering kita menghabiskan waktu dalam hari-hari kita bersedih dan murung, semua itu karena kita tidak secara serius melakukan apa yang kita tahu adalah benar tentang kebenaran Allah dan perlindungannya terhadap kita. Kita harus berdoa dan minta Allah untuk memberikan kekuatan kepada kita untuk melawan keadaan depresif dan melankolis itu. Ada yang disebut kemauan yang tak akan tunduk kepada kehendak Allah. Kita bisa menjadi keras hati, menolak untuk melihat karya Allah yang baik. Ini adalah penyakit kanker yang akan menghancurkan kita. &amp;lt;br&amp;gt;Kedua, tidak perduli apapun keadaan kita, kita harus mencari alasan yang mendorong kita untuk bersukacita. Kita juga harus “bersukacita dalam penderitaan” (Rom. 5:3). Saya ingat cerita tentang Horatio Spafford, seorang pengusaha di Chicago di tahun 1873 yang kehilangan seluruh bisnisnya dalam kebakaran di Chicago. Ia mengirim istri dan ke empat anak perempuanya ke Inggris dengan kapal SS. Ville de Havre, dan mendapati bahwa kapal tersebut menabrak kapal lain (the Lochearn) di mid-Atlantic dan menelan korban 261 orang termasuk ke empat anak perempuannya. Ny. Spafford, yang telah diselamatkan, mengirim telegram kepadanya yang berbunyi: “Selamat seorang diri.” Horatio kemudian naik kapal berikutnya yang ada untuk menemui istrinya, ia akan diberitahukan oleh kapten kapal tersebut titik di mana anak-anaknya tenggelam. Pada saat itulah ia menulis syair-syair berikut: &amp;lt;br&amp;gt;Ketika damai bagaikan sungai mengalir di jalanku,&amp;lt;br&amp;gt;Ketika penderitaan bagaikan ombak besar menggulung,&amp;lt;br&amp;gt;Apapun bagian hidupku, Engkau telah mengajarku berkata,&amp;lt;br&amp;gt;“Selamatlah, selamatlah jiwaku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cara hidup yang Tuhan inginkan dari kita. Kita tidak punya hak untuk mengharapkan bahwa hidup kita akan bebas dari persoalan. Namun dalam setiap keadaan, bila kita adalah pengikut Tuhan, kita diyakinkan akan perlindungan dan pemenuhan akan segala kebutuhan kita dari Allah. Ia mengerjakan setiap detil. Tidak terdapat kesalahan padaNya (Rom. 8:32ff.). Keberadaan kita setiap saat sudah cukup menjadi alasan untuk bersukacita: hal baik dan buruk bersama-sama bersatu untuk menciptakan suatu simponi haleluya untuk pujian kepada Allah yang Maha Agung &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterjemahkan oleh Nelce Manoppo, Jakarta 14 Agustus 2008.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/Old_Expectations/id</id>
		<title>Old Expectations/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/Old_Expectations/id"/>
				<updated>2008-06-18T04:05:14Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= '''Pengharapan-pengharapan lama'''  =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus memulai karyanya di bumi, ia memulai dengan “memberitakan injil kerayaan Allah” (Mat. 4:23). Kendati demikian, kita tidak mendapati dalam injil di mana Yesus menjelaskan arti kerajaan surga tersebut. Alasannya sederhana: Yesus tidak perlu menjabarkan apa yang dimaksud dengan kerajaan surga, karena para pendengarnya diwaktu Perjanjian Lama semua sudah terpelajar. Teka-teki bagi mereka adalah untuk mencari tahu bagaimana kedatangan Yesus itu sesuai dengan pengharapan sebagaimana yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya kemudian Yesus berkata, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Mat. 13:52). Kerajaan Allah, atau kerajaan surga seperti yang disebut dalam injil Matius, adalah sesuatu yang lama dan yang baru. Ini adalah sebuah konsep yang seumur dengan penciptaan itu sendiri, namun dengan kedatangan Kristus, kerajaan Allah sudah datang ke dunia dengan cara yang sangat berbeda. Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri akar dari Kerajaan Allah dan menyelidiki bagaimana kerajaan itu diperbarui dan dicapai dalam karya Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah bermula sejak penciptaan. Allah adalah raja atas segala yang telah diciptakannya, yang berarti bahwa Ia memerintah atas segala sesuatu di bumi di sekeliling kita. Ia berkuasa atas bintang-bintang di langit dan di planet, suatu kekuasaan yang digambarkan dalam kekuasaan sub-ordinasi yang dilakukan oleh matahari dan bulan secara bergantian pada waktu siang dan malam, musim dan tahun. Ia berkuasa atas bumi dan segala mahluk yang ada di dalamnya, suatu kekuasaan yang diberikan melalui mandat kepada Adam dan Hawa untuk memerintah atas ciptaan yang lebih rendah, memenuhi dan menaklukkannya untuk kemuliaan Raja di atas segala Raja, yang dari gambarNya mereka telah diciptakan. Di taman Firdaus, mereka diharuskan untuk taat pada Hukum Raja di atas segala Raja dan tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Bahwa manifestasi pertama dari pemerintahan Allah adalah saat “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”, yang disebut oleh Paulus sebagai inti dari Kerajaan Allah dalam Roma 14:17. Namun ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, semua itu hilang. Pemerintahan Allah atas ciptaan ditantang dengan tindakan pemberontakan: kebenaran diganti dengan kejahatan, dan akibatnya adalah hubungan yang harmonis dalam damai sejahtera dan sukacita antara raja dan umatNya terputus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, Allah tetap teguh untuk menciptakan kembali pemerintahanNya yang baik atas umat manusia. Untuk itulah maka Ia memanggil Abraham dari keturunan penyembah berhala dan menjanjikan untuk memberinya tanah di mana ia akan tinggal. Pada saat eksodus tersebut, Ia membawa keturunan Abraham keluar dari Mesir dan menyatakan bahwa mereka adalah harta kesayangan Allah sendiri: Israel akan menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus (Kel. 19:5–6). Allah akan menjadi gembala yang baik dan akan menggembalakan mereka di dunia, raja yang akan memerintah dengan bijaksana (Ulangan 17:15). Tuhan akan menjalankan kekuasaan tertinggiNya di seluruh dunia dengan kebenaran dan keadilan demi umatnya sendiri, Israel (Mazmur 99). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa menghadang kekuasaan Tuhan atas Israel, sama seperti sebelumnya dosa menantang kekuasaanNya atas ciptaan. Umat pilihan Allah mau berontak terhadap Dia dan melanggar perjanjian, mencari ilah lain untuk menggantikan Tuhan. Raja-raja yang telah diangkat Allah untuk memimpin umatnya dalam kebenaran malahan menyesatkan mereka, membuat patung bagi mereka untuk disembah. Akibatnya, bukannya kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dialami bangsa Israel melainkan kutuk perjanjian, dan mencapai puncaknya dengan pembuangan dari tanah perjanjian. Raja di atas segala raja meninggalkan istana kediamanNya di Yerusalem, dan membiarkannya tanpa penjagaan dari serangan musuh-musuhnya. (Yeh. 9–10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, dosa manusia tidak akan pernah mendapat kata terakhir. Bahkan ketika Israel dan Yehuda sedang dibawa pergi untuk diasingkan, para nabi mengumumkan kepastian akan suatu permulaan yang baru, kerajaan yang baru yang akan dibangun di atas perjanjian baru (Jer. 31:31–33). Sebab sesungguhnya Allah akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru (Yes. 65:17), suatu ciptaan baru yang berarti kembali kepada damai sejahtera dan kemakmuran seperti di Taman Firdaus (Yes. 11:6–9). Tuhan akan mengangkat kembali umatnya dari tanah asing dengan eksodus baru, dan dari bekas tulang-tulang kering Ia akan membentuk Israel yang baru. (Yeh. 37). Umat yang baru ini akan dipimpin oleh seorang raja yang baru yang dipilih sesuai kehendak Allah sendiri (Yeh. 34:23–24) dan bahkan akan mengikutsertakan orang-orang lain bukan Yahudi (Yes. 2:2–4; 56: 6–7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, permulaan yang baru untuk kerajaan Allah ini tidak akan terjadi segera atau secara cepat. Bahkan setelah kepulangan dari pembuangan, umat Israel harus menghadapi peristiwa-peristiwa kecil, mencoba untuk bertahan hidup tanpa raja mereka (Zak. 4:10). Mereka diperingati melalui nabi Daniel bahwa kesudahan alam belum dekat. – masih akan ada perjalanan panjang dan sulit yang harus ditempuh sebelum pemerintahan Tuhan dan orang-orang sucinya dimulai. Kerajaan yang akan datang yang akan mengakhiri semua kerajaan di bumi hanya akan datang setelah waktu yang lama dan berbagai pencobaan dalam sejarah (Dan. 8) . Tahun-tahun pembuangan hanyalah bagian kecil dari masa pencobaan dan kesengsaraan, yang akan berlangsung tidak hanya selama tujuh puluh tahun akan tetapi tujuh puluh kali tujuh tahun (Dan. 9:24; bandingkan dengan Mat. 18:22). Kerajaan Allah akan dimulai dengan kerikil kecil yang kemudian akan bertumbuh menjadi gunung yang akan menguasai bumi (Dan. 2:34–35). Namun pada akhirnya, perlawanan manusiawi atau piritual apapun yang akan menghadangnya, kerajaan Allah pasti akan menang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus tiba dan memberitakan tentang kerajaan Allah, ia berbicara melawan latar belakang dari pengharapan-pengharapan Perjanjian Lama ini. Ia memberitakan tentang kedatangan pemerintahan Allah di bumi dengan cara yang baru dan nyata: Allah sendiri telah datang dan tinggal di antara manusia untuk mencapai misi abadiNya untuk memiliki umat kepunyaanNya. Kedatangannya akan membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Luk 4:18–19). Kerajaan Allah telah muncul melalui kedatangan Israel baru, Yesus sendiri. Dalam injil Matius, silsilah Yesus menyatakan bahwa Yesus sebagai Israel baru, keturunan Abraham, anak Daud, anak seorang yang dibuang (Mat. 1:2–16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti Israel, Yesus pergi ke Mesir sebagai seorang anak kecil dan dibawa keluar dengan selamat dari sana (Mat. 2:13–15). Ia dibaptis dan menghabiskan empat puluh hari di padang gurun, sama dengan yang dialami oleh bangsa Israel (Mat. 3–4), sebelum naik ke gunung untuk memberikan Hukum Taurat kepada umatnya (Mat. 5). Kendati Israel gagal dalam pengembaraan di padang gurun, Yesus tetap taat. Yesus telah datang untuk menggenapi Hukum Taurat yang telah menghancurkan Israel (Mat. 5:17). Melalui kematian dan kebangkitannya, Yesus telah menyelesaikan suatu eksodus baru bagi umatNya, melepaskan mereka dari jerat dosa dan kematian (Luk 9:31). Di dalam Dia, umat Allah yang baru – yang mempersatukan bangsa Yahudi, orang Samaria, dan Bangsa-bangsa bukan Yahudi – menjadi suatu kenyataan (Yoh 4; Ef. 2:11–22). Di dalam Kristus, kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam kehadiran Allah sekali lagi terbuka untuk manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sementara kerajaan Allah datang ke dunia melalui pribadi Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu, perwujudan akhirnya tetap menjadi pengharapan kita di masa datang. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mendoakan kedatangan kerajaan sorga (Mat. 6:10) dan dengan setia menantikannya, kendatipun kedatangannya masih lama (Mat. 25). Pemerintahan Allah telah dimulai, membawa serta damai sejahtera dan sukacita bagi umatNya, tetapi kita belum melihat surga baru dan bumi baru yang diberitakan oleh para nabi. Dalam pengertian yang sangat dalam, dengan kedatangan Kristus, dan khususnya dengan kematian dan kebangkitanNya, pemerintahan atas dunia ini telah dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapinya (Wah. 11:15). Namun demikian, kita belum tiba di Yerusalem baru, yang mencakup Firdaus yang baru, yang membawa semua sejarah manusia ke kesudahan alam. Kendati kita belum bisa melihatnya, akhir dari cerita ini adalah pasti. Batu itu telah menimpa kaki dari sebuah struktur kekuatan zaman ini yang terbuat dari tanah liat dan sedang menuju kehancurannya menjadi debu (Dan. 2:34–35). Untuk semua kemuliaan dan bentuk kegagahan mereka, terdapat tulisan pada dinding mengenai raja-raja dan kerajaan dunia ini – kebinasaan mereka sudah pasti. Kerajaan Allah adalah satu-satunya kerajaan yang akan tetap selama-lamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara, kita menantikan kedatangan kembali raja kita dari surga dengan pengharapan yang penuh semangat. Ia akan datang kembali membawa kepenuhan atas kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus yang merupakan hasil perjanjian dari pemerintahanNya. Ia akan berkuasa atas lautan, atas pria dan wanita dari segala suku, bahasa dan bangsa. Pertempuran yang meyakinkan telah dimenangkan, dan kemenangan telah dinyatakan melalui kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Di dalam Yesus, kerajaan Allah telah datang ke dunia, dan pemerintahanNya akan tetap untuk selama-lamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo, Jakarta, 2 Juni 2008.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/Old_Expectations/id</id>
		<title>Old Expectations/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/Old_Expectations/id"/>
				<updated>2008-06-18T04:04:18Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= '''Pengharapan-pengharapan lama''' =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus memulai karyanya di bumi, ia memulai dengan “memberitakan injil kerayaan Allah” (Mat. 4:23). Kendati demikian, kita tidak mendapati dalam injil di mana Yesus menjelaskan arti kerajaan surga tersebut. Alasannya sederhana: Yesus tidak perlu menjabarkan apa yang dimaksud dengan kerajaan surga, karena para pendengarnya diwaktu Perjanjian Lama semua sudah terpelajar. Teka-teki bagi mereka adalah untuk mencari tahu bagaimana kedatangan Yesus itu sesuai dengan pengharapan sebagaimana yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya kemudian Yesus berkata, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Mat. 13:52). Kerajaan Allah, atau kerajaan surga seperti yang disebut dalam injil Matius, adalah sesuatu yang lama dan yang baru. Ini adalah sebuah konsep yang seumur dengan penciptaan itu sendiri, namun dengan kedatangan Kristus, kerajaan Allah sudah datang ke dunia dengan cara yang sangat berbeda. Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri akar dari Kerajaan Allah dan menyelidiki bagaimana kerajaan itu diperbarui dan dicapai dalam karya Yesus Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah bermula sejak penciptaan. Allah adalah raja atas segala yang telah diciptakannya, yang berarti bahwa Ia memerintah atas segala sesuatu di bumi di sekeliling kita. Ia berkuasa atas bintang-bintang di langit dan di planet, suatu kekuasaan yang digambarkan dalam kekuasaan sub-ordinasi yang dilakukan oleh matahari dan bulan secara bergantian pada waktu siang dan malam, musim dan tahun. Ia berkuasa atas bumi dan segala mahluk yang ada di dalamnya, suatu kekuasaan yang diberikan melalui mandat kepada Adam dan Hawa untuk memerintah atas ciptaan yang lebih rendah, memenuhi dan menaklukkannya untuk kemuliaan Raja di atas segala Raja, yang dari gambarNya mereka telah diciptakan. Di taman Firdaus, mereka diharuskan untuk taat pada Hukum Raja di atas segala Raja dan tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Bahwa manifestasi pertama dari pemerintahan Allah adalah saat “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”, yang disebut oleh Paulus sebagai inti dari Kerajaan Allah dalam Roma 14:17. Namun ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, semua itu hilang. Pemerintahan Allah atas ciptaan ditantang dengan tindakan pemberontakan: kebenaran diganti dengan kejahatan, dan akibatnya adalah hubungan yang harmonis dalam damai sejahtera dan sukacita antara raja dan umatNya terputus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, Allah tetap teguh untuk menciptakan kembali pemerintahanNya yang baik atas umat manusia. Untuk itulah maka Ia memanggil Abraham dari keturunan penyembah berhala dan menjanjikan untuk memberinya tanah di mana ia akan tinggal. Pada saat eksodus tersebut, Ia membawa keturunan Abraham keluar dari Mesir dan menyatakan bahwa mereka adalah harta kesayangan Allah sendiri: Israel akan menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus (Kel. 19:5–6). Allah akan menjadi gembala yang baik dan akan menggembalakan mereka di dunia, raja yang akan memerintah dengan bijaksana (Ulangan 17:15). Tuhan akan menjalankan kekuasaan tertinggiNya di seluruh dunia dengan kebenaran dan keadilan demi umatnya sendiri, Israel (Mazmur 99).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa menghadang kekuasaan Tuhan atas Israel, sama seperti sebelumnya dosa menantang kekuasaanNya atas ciptaan. Umat pilihan Allah mau berontak terhadap Dia dan melanggar perjanjian, mencari ilah lain untuk menggantikan Tuhan. Raja-raja yang telah diangkat Allah untuk memimpin umatnya dalam kebenaran malahan menyesatkan mereka, membuat patung bagi mereka untuk disembah. Akibatnya, bukannya kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dialami bangsa Israel melainkan kutuk perjanjian, dan mencapai puncaknya dengan pembuangan dari tanah perjanjian. Raja di atas segala raja meninggalkan istana kediamanNya di Yerusalem, dan membiarkannya tanpa penjagaan dari serangan musuh-musuhnya. (Yeh. 9–10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, dosa manusia tidak akan pernah mendapat kata terakhir. Bahkan ketika Israel dan Yehuda sedang dibawa pergi untuk diasingkan, para nabi mengumumkan kepastian akan suatu permulaan yang baru, kerajaan yang baru yang akan dibangun di atas perjanjian baru (Jer. 31:31–33). Sebab sesungguhnya Allah akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru (Yes. 65:17), suatu ciptaan baru yang berarti kembali kepada damai sejahtera dan kemakmuran seperti di Taman Firdaus (Yes. 11:6–9). Tuhan akan mengangkat kembali umatnya dari tanah asing dengan eksodus baru, dan dari bekas tulang-tulang kering Ia akan membentuk Israel yang baru. (Yeh. 37). Umat yang baru ini akan dipimpin oleh seorang raja yang baru yang dipilih sesuai kehendak Allah sendiri (Yeh. 34:23–24) dan bahkan akan mengikutsertakan orang-orang lain bukan Yahudi (Yes. 2:2–4; 56: 6–7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, permulaan yang baru untuk kerajaan Allah ini tidak akan terjadi segera atau secara cepat. Bahkan setelah kepulangan dari pembuangan, umat Israel harus menghadapi peristiwa-peristiwa kecil, mencoba untuk bertahan hidup tanpa raja mereka (Zak. 4:10). Mereka diperingati melalui nabi Daniel bahwa kesudahan alam belum dekat. – masih akan ada perjalanan panjang dan sulit yang harus ditempuh sebelum pemerintahan Tuhan dan orang-orang sucinya dimulai. Kerajaan yang akan datang yang akan mengakhiri semua kerajaan di bumi hanya akan datang setelah waktu yang lama dan berbagai pencobaan dalam sejarah (Dan. 8) . Tahun-tahun pembuangan hanyalah bagian kecil dari masa pencobaan dan kesengsaraan, yang akan berlangsung tidak hanya selama tujuh puluh tahun akan tetapi tujuh puluh kali tujuh tahun (Dan. 9:24; bandingkan dengan Mat. 18:22). Kerajaan Allah akan dimulai dengan kerikil kecil yang kemudian akan bertumbuh menjadi gunung yang akan menguasai bumi (Dan. 2:34–35). Namun pada akhirnya, perlawanan manusiawi atau piritual apapun yang akan menghadangnya, kerajaan Allah pasti akan menang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus tiba dan memberitakan tentang kerajaan Allah, ia berbicara melawan latar belakang dari pengharapan-pengharapan Perjanjian Lama ini. Ia memberitakan tentang kedatangan pemerintahan Allah di bumi dengan cara yang baru dan nyata: Allah sendiri telah datang dan tinggal di antara manusia untuk mencapai misi abadiNya untuk memiliki umat kepunyaanNya. Kedatangannya akan membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Luk 4:18–19). Kerajaan Allah telah muncul melalui kedatangan Israel baru, Yesus sendiri. Dalam injil Matius, silsilah Yesus menyatakan bahwa Yesus sebagai Israel baru, keturunan Abraham, anak Daud, anak seorang yang dibuang (Mat. 1:2–16).&amp;lt;br&amp;gt;Seperti Israel, Yesus pergi ke Mesir sebagai seorang anak kecil dan dibawa keluar dengan selamat dari sana (Mat. 2:13–15). Ia dibaptis dan menghabiskan empat puluh hari di padang gurun, sama dengan yang dialami oleh bangsa Israel (Mat. 3–4), sebelum naik ke gunung untuk memberikan Hukum Taurat kepada umatnya (Mat. 5). Kendati Israel gagal dalam pengembaraan di padang gurun, Yesus tetap taat. Yesus telah datang untuk menggenapi Hukum Taurat yang telah menghancurkan Israel (Mat. 5:17). Melalui kematian dan kebangkitannya, Yesus telah menyelesaikan suatu eksodus baru bagi umatNya, melepaskan mereka dari jerat dosa dan kematian (Luk 9:31). Di dalam Dia, umat Allah yang baru – yang mempersatukan bangsa Yahudi, orang Samaria, dan Bangsa-bangsa bukan Yahudi – menjadi suatu kenyataan (Yoh 4; Ef. 2:11–22). Di dalam Kristus, kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam kehadiran Allah sekali lagi terbuka untuk manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sementara kerajaan Allah datang ke dunia melalui pribadi Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu, perwujudan akhirnya tetap menjadi pengharapan kita di masa datang. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mendoakan kedatangan kerajaan sorga (Mat. 6:10) dan dengan setia menantikannya, kendatipun kedatangannya masih lama (Mat. 25). Pemerintahan Allah telah dimulai, membawa serta damai sejahtera dan sukacita bagi umatNya, tetapi kita belum melihat surga baru dan bumi baru yang diberitakan oleh para nabi. Dalam pengertian yang sangat dalam, dengan kedatangan Kristus, dan khususnya dengan kematian dan kebangkitanNya, pemerintahan atas dunia ini telah dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapinya (Wah. 11:15). Namun demikian, kita belum tiba di Yerusalem baru, yang mencakup Firdaus yang baru, yang membawa semua sejarah manusia ke kesudahan alam. Kendati kita belum bisa melihatnya, akhir dari cerita ini adalah pasti. Batu itu telah menimpa kaki dari sebuah struktur kekuatan zaman ini yang terbuat dari tanah liat dan sedang menuju kehancurannya menjadi debu (Dan. 2:34–35). Untuk semua kemuliaan dan bentuk kegagahan mereka, terdapat tulisan pada dinding mengenai raja-raja dan kerajaan dunia ini – kebinasaan mereka sudah pasti. Kerajaan Allah adalah satu-satunya kerajaan yang akan tetap selama-lamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara, kita menantikan kedatangan kembali raja kita dari surga dengan pengharapan yang penuh semangat. Ia akan datang kembali membawa kepenuhan atas kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus yang merupakan hasil perjanjian dari pemerintahanNya. Ia akan berkuasa atas lautan, atas pria dan wanita dari segala suku, bahasa dan bangsa. Pertempuran yang meyakinkan telah dimenangkan, dan kemenangan telah dinyatakan melalui kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Di dalam Yesus, kerajaan Allah telah datang ke dunia, dan pemerintahanNya akan tetap untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo, Jakarta, 2 Juni 2008.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Undeserved_Gift_to_the_World:_Christian_Sufferers/id</id>
		<title>God's Undeserved Gift to the World: Christian Sufferers/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Undeserved_Gift_to_the_World:_Christian_Sufferers/id"/>
				<updated>2008-01-21T06:28:47Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Nelcemanoppo: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pemberian Tuhan yang Dunia Tidak Layak Menerimanya: Orang-orang Kristen yang Menderita &amp;lt;br&amp;gt;Renungan dari Ibrani 11:37-39&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibrani 11:37-39 &amp;lt;br&amp;gt;Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan--dunia ini tidak layak bagi mereka--mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik…&amp;lt;br&amp;gt;Yesus berterus terang bahwa semua pengikutnya harus memikul salib dan mengikut dia (Markus 8:34). Ia juga mengatakan bahwa jika orang menyebut Yesus “Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Matius 10:25). “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yohanes 15:20).&amp;lt;br&amp;gt;Bagi mereka yang membaktikan hidupnya untuk mengabarkan injil, Alkitab menjanjikan bahwa akan banyak lagi penderitaan. Misalnya, Yesus berkata kepada Ananias untuk memberitahukan kepada Paulus, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yag harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kisah Para Rasul 9:16). Penderitaan ini adalah strategis. Ia memiliki suatu rancangan yang indah. Ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kasih Kristus kepada dunia. &amp;lt;br&amp;gt;Paulus menjelaskan bahwa rancangan seperti ini: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus” (Kolose 1:24). Kita tahu dari Filipi 2:30 bahwa “untuk memenuhi apa yang masih kurang” tidak berarti menambah pada apa yang sudah ada, akan tetapi meneruskan apa yang sudah ada kepada mereka yang merupakan sasarannya.&amp;lt;br&amp;gt;Jadi bagi orang-orang Filipi, itu berarti bahwa Epaphroditus akan membawa kasihnya kepada Paulus dalam bentuk hadiah. Dalam Kolose 1:24, ini berarti bahwa Paulus akan membawa “penderitaan Kristus” kepada dunia dalam penderitaannya sendiri. Rancangan penderitaan Paulus adalah untuk mewujudkan dan menunjukkan penderitaan Kristus. Ketika dunia melihat seorang misioner menderita pada saat memberitakan Kristus kepada manusia, mereka sedang melihat kasih Kristus kepada mereka di atas kayu salib.&amp;lt;br&amp;gt;Dunia tidak layak menerima hadiah penderitaan orang Kristen. Namun Tuhan tetap memberikannya. Ibrani 11:27-38 menjelaskan sebagian dari penderitaan orang-orang Kristen ini dan bagaimana dunia tidak layak menerimanya. “Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan--dunia ini tidak layak bagi mereka”. Kata-kata terakhir ini berarti bahwa dunia tidak layak menerima hadiah dari orang-orang Kristen yang menderita ini. Namun Tuhan tetap memberikannya.&amp;lt;br&amp;gt;Bagaimana mungkin para orang suci (santo) yang menderita ini merupakan hadiah bagi dunia? Jawabannya terletak pada iman mereka. Semua ini “dipercayakan melalui iman mereka (ayat 39). Yaitu, penderitaan-penderitaan itu diijinkan oleh Tuhan. Penderitaan mereka bukanlah karena kurangnya iman mereka, akan tetapi harga dari penderitaan mereka benar-benar terletak pada iman mereka. Bagaimana mungkin?&amp;lt;br&amp;gt;Perhatikan dalam Ibrani 11 bahwa kadang-kadang Tuhan melakukan mujizat pertolongan melalui penderitaan (Ibrani 11:27-35a). Dan kadang-kadang ia memberi iman untuk menanggung dukacita dan kematian (Ibrani 11:35b-39). Sebutan umum tentang iman yang hilang dan iman yang bertahan adalah di mana Tuhan lebih dimuliakan di atas kebebasan dan kehidupan. Orang yang hilang imannya berkata, “Yesus lebih baik daripada apa yang aku dapatkan.” Orang yang mati berkata, “Yesus lebih baik daripada apa yang hilang dari padaku.” Itu adalah inti dari iman: Yesus dipercaya dan dimuliakan di atas segala-galanya.&amp;lt;br&amp;gt;Itulah sebabnya orang-orang Kristen yang menderita ini--khususnya para misionaris yang menderita--merupakan hadiah bagi dunia. Penderitaan mereka demi Yesus mewujudkan kebenaran injil bahwa Yesus lebih berharga daripada apa yang dapat diberikan oleh hidup dan apa yang dapat diambil oleh maut. Sungguh suatu pernyataan salib yang hidup! Kebenaran ini adalah suatu hadiah yang paling berharga yang dapat diberikan oleh seorang Kristen bagi dunia.&amp;lt;br&amp;gt;Dunia tidak layak menerimanya. “Dunia ini tidak layak bagi mereka.” Namun kita tetap memberikannya. Saya berdoa semoga kamu sekalian akan memiliki iman yang teguh dalam Yesus ketika tiba saatnya untuk memberi hadiah penderitaan bagi dunia. Bersiaplah untuk itu dengan mengenal Yesus secara mendalam.&amp;lt;br&amp;gt;Bersiap-siap bersama anda untuk memberi,&amp;lt;br&amp;gt;Pendeta John &amp;lt;br&amp;gt;Diterjemahkan oleh Nelce Manoppo, Jakarta 16 Januari 2008.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Nelcemanoppo</name></author>	</entry>

	</feed>